BUDIDAY TANAMAN CABAI RAWIT
Oleh :
Nurul Huda Mustofa, SP
Cabai rawit (Capsicum frutescens L.) berasal dari Benua Amerika, tepatnya daerah Peru dan menyebar ke negara-negara Amerika, Eropa dan Asia termasuk Indonesia.Tanaman cabai rawit termasuk dalam famili Solanaceae dan merupakan tanaman berumur panjang (tahunan) yang dapat
hidup sampai umur 2-3 tahun serta dapat ditanam pada ketinggian antara 0-1500 meter di atas permukaan laut.
Secara umum, beberapa syarat tumbuh tanaman cabai rawit antara lain:
1. Intensitas curah hujan yang sesuai untuk pertumbuhan tanaman cabai rawit adalah 100-1200 mm/tahun. Tanaman cabai tidak cocok ditanam dengan curah hujan yang tinggi karena tanaman cabai rawit akan mudah terserang penyakit yang disebabkan oleh cendawan atau bakteri misalnya penyakit bercak daun (antraknosa) dan penyakit layu.
2. Tanaman cabai rawit membutuhkan cahaya matahari yang cukup sebagai sumber energi untuk fotosintesis yang berpengaruh pada pertumbuhan vegetatif dan generatif. Kekurangan cahaya matahari aka menghambat pertumbuhan vegetatif dan generatif tanaman, sedangkan cahaya matahari yang terlalu tinggi menyebabkan daun klorosis pada tanaman.
3. Pertumbuhan tanaman cabai akan optimum jika ditanam pada tanah yang gembur, subur, dan banyak mengandung humus (bahan organik).
Peningkatan produksi dan mutu cabai rawit memerlukan tata kelola budidaya yang meliputi perbaikan manajemen serta aplikasi budidaya dari pra-panen sampai dengan pasca panen. Tanpa meninggalkan kearifan lokal dalam aplikasi budidaya pra-panen, perlu mempertimbangkan berbagai inovasi yang memungkinkan kegiatan manajemen lapangan yang lebih menguntungkan, seperti menggunakan mulsa plastik hitam perak.
Untuk memperoleh hasil buah yang optimal, dalam budidaya tanaman cabai rawit selain dengan menggunakan varietas yang jelas, memiliki keunggulan mutu seperti tahan terhadap OPT, produktivitas tinggi, juga perlu diperhatikan penerapan teknologi budidaya yang baik.
Kegiatan budidaya yang dinilai berkaitan erat dengan tujuan dan target yang ditetapkan, adalah pemeliharaan,pemupukan, pengairan, pengendalian OPT, panen dan penanganan pasca panen.
A. PERSIAPAN LAHAN
Budidaya tanaman cabai harus diperhatikan sejak persiapan lahan, kegiatan persiapan lahan adalah kegiatan memberi perlakuan pada lahan agar sesuai untuk pertumbuhan tanaman, meliputi kegiatan persiapan/ pengolahan lahan, pemupukan dasar, pembuatan bedengan dan atau pemasangan mulsa plastik. Tujuan mempersiapkan lahan ini agar pertumbuhan tanaman optimal.
Pengolahan tanah dilakukan dengan cara mencangkul untuk membersihkan lahan dari kotoran akar bekas tanaman lama dan segala macam gulma yang tumbuh. Hal tersebut dilakukan agar pertumbuhan akar tanaman cabai tidak terganggu dan untuk menghilangkan tumbuhan yang menjadi inang hama dan penyakit. Penyiapan lahan dengan pengolahan tanah diperlukan selain untuk memperbaiki kondisi lahan menjadi lebih seragam dan rata dengan adanya pencangkulan dan penggemburan, juga untuk mempercepat proses pencampuran bahan amelioran maupun pupuk dengan tanah (Alihamsyah et al., 2003).
Pengolahan tanah ditujukan untuk memperbaiki drainase dan aerasi tanah, dan mengendalikan gulma, sehingga akar-akar tanaman dapat tumbuh dan berkembang dengan leluasa (Hilman dan Suwandi 1992). Adapun pengolahan lahan dapat dilakukan sebagai berikut:
- Lakukan pembersihan lahan dari sisa tanaman dan gulma.
- Lakukan penggemburan lahan dengan cara mencangkul sampai kedalaman 25-30 cm, kemudian lakukan perataan permukaan lahan.
- Buat guludan mengikuti arah utara selatan dengan lebar 1,0-1,25 meter, tinggi guludan disesuaikan dengan tinggi muka air ketika pasang, dengan jarak
antar bedengan 50 cm dan panjang disesuaikan kondisi lahan - Penanaman menggunakan polybag di dalam rumah kasa dilakukan dengan cara menyiapkan campuran tanah: pupuk kandang = 1:1. Media yang sudah tercampur dimasukan ke dalam polybag berukuran 40 x 40 cm;
B. PEMUPUKAN DASAR
Pemberian pupuk dasar dalam bentuk pupuk organik yang sudah matang sekitar 2 minggu sebelum tanam. Pupuk anorganik NPK, 7-10 hari sebelum tanam dengan cara ditebar, disiram dan ditutup mulsa organik. Jumlah dan jenis pupuk yaitu pupuk kandang sebanyak 20– 30 ton/ha dan sudah difermentasi dengan beberapaagen hayati, NPK 16-16-16 450kg/ha atau menggunakan campuran pupuk tunggal 200 kg/ha SP36, dan 100 kg/ha KCL.
C. PENANAMAN
Penanaman merupakan kegiatan memindahkan bibit dari persemaian ke lahan atau areal penanaman hingga tanaman berdiri tegak dan tumbuh secara optimal di lapangan. Sebelum penanaman periksa bibit yang akan ditanam dan harus diseleksi terlebih dahulu. Batang tanaman harus tumbuh lurus, perakaran banyak danpertumbuhannya normal. Tanam bibit dibedengan pada lubang mulsa organik, sebatas leher akar dan tanah disekitarnya dipadatkan agar bibit berdiri kuat.
D. PEMUPUKAN SUSULAN
Pemupukan susulan diberikan pada saat tanaman berumur 15 HST diberikan NPK (2 kg) dan pupuk boron (1 kg) dicampur dalam 100 liter air, dikocor 250 ml pertanaman dan setiap 10-15 hari sekali hingga 55 HST. Dilanjut dengan NPK (2 kg) dan KNO3 (1 kg) dicampur dalam 100 liter air, dikocor 250 ml per tanaman pada 65, 75 dan 85 HST. Larutan pupuk tersebut disiramkan ke media tanam yang berisi tanaman cabai.
E. PEMASANGAN AJIR
Pemasangan ajir sebaiknya dilakukan sesegara mungkin setelah tanam/pada saat tanaman masih kecil untuk menghindari terpotongnya akar tanaman karena tertusuk ajir. Bahan tiang ajir dapat menggunakan bambu atau potongan kayu yang berukuran kecil dengan panjang 100 cm (sesuaikan dengan kebutuhan). Jarak dari batang tanaman dengan tiang ajir antara 10 cm sedalam 15 – 20 cm dengan posisi miring keluar atau tegak lurus atau diatur sedemikian rupa sehingga dapat menopang tanaman secara kuat. lkat tanaman pada ajir dengan tali rafia setelah tanaman berumur 30-40 hari setelah tanam atau ditandai setelah adanya cabang pertama.
F. PEREMPELAN / PEWIWILAN
Perempelan/pewiwilan merupakan kegiatan membuang tunas air dengan membiarkan tunas keempat dan seterusnya. Tujuan perempelan/pewiwilan yaitu untuk mengatur keseimbangan nutrisi dan asimilat untuk pertumbuhan dan perkembangan tanaman, membentuk tajuk tanaman yang ideal sehingga terjadi partisi sinar matahari yang efektif untuk energi fotosintesis serta mempermudah pemeliharaan. Pemotongan tunas (perempelan) pada tanaman cabai dilakukan pada waktu pagi hari, pewiwilan tunas di ketiak daun pada umur 20 - 45 HST.
G. PENGENDALIAN OPT
Pengendalian OPT dapat dilakukan dengan pengamatan OPT secara berkala untuk mengetahui jenis OPT, luas dan intensitas serangan serta perkiraan OPT yang perlu diwaspadai dan dikendalikan, apabila mencapai ambang kendali lakukan tindakan pengendalian. Pengendalian hama dan penyakit pada tanaman cabai dilaksanakan berdasarkan konsepsi Pengendalian Hama Terpadu (PHT). Dalam konsepsi PHT, aplikasi pestisida merupakan alternatif terakhir jika cara pengendalian non- kimia kurang efektif.
H. PANEN
Kegiatan panen dapat dilakukan pada saat mencapai kematangan fisiologis, dengan tujuan untuk mendapatkan buah dengan tingkat kematangan yang sesuai permintaan pasar dengan mutu buah yang baik. Hal yang perlu diperhatikan pada saat memasuki waktu panen yaitu menghentikan penyemprotan pestisida 2 minggu sebelum panen. Saat memanen perhatikan pemetikan agar percabangan atau tangkai tanaman tidak patah. Cara panen dilakukan dengan memetik dan menyertakan tangkai buahnya. Panen cabai rawit dapat dilakukan pada umur 100-115 hari setelah tanam, dengan tingkat kemasakan telah mencapai sekitar 80% saat mencapai bobot maksimal, bentuk padat dan berwarna merah dengan interval 3-7 hari. Buah cabai yang rusak atau sakit harus dipanen untuk dibuang agar tidak menjadi sumber penyakit. Buah cabai yang telah dipanen sebaiknya ditaruh ditempat terbuka atau diangin-anginkan supaya tidak cepat busuk. Proses penganginan ini cukup penting, apalagi jika cabai tidak akan segera dikonsumsi.
I. PASCA PANEN
Kegiatan pengelolaan buah dilakukan sejak setelah dipanen hingga siap didistribusikan ke konsumen. Tujuannya menjamin kesegaran, keseragaman ukuran dan mutu buah sesuai dengan permintaan pasar. Untuk menghasilkan kualitas cabai yang baik harus
dilakukan proses penanganan pasca panen cabai yang baik dan benar melalui beberapa tahapan, yaitu:
- Lakukan sortasi sesuai dengan kriteria yang dikehendaki pasar.
- Keringanginkan hasil buah untuk mencegah pembusukan.
- Lakukan penyimpanan dengan menempatkan produk dalam ruangan yang sirkulasi udara yang baik.
- Lakukan pengemasan sesuai permintaan/ tujuan pasar.
- Gunakan kemasan yang memiliki daya lindung yang tinggi terhadap kerusakan, aman dan ekonomis. Proses ini sangat penting untuk menurunkan tingkat kehilangan hasil sehingga dapat memperpanjang umur simpan, meningkatkan daya saing dan kualitas dan kontinyuitas cabai.