Senin, 20 Januari 2025

                       

                 BUDIDAY TANAMAN CABAI RAWIT




                                                                Oleh : 

                                                Nurul Huda Mustofa, SP

         

Cabai rawit (Capsicum frutescens L.) berasal dari Benua Amerika, tepatnya daerah Peru dan menyebar ke negara-negara Amerika, Eropa dan Asia termasuk Indonesia.Tanaman cabai rawit termasuk dalam famili Solanaceae dan merupakan tanaman berumur panjang (tahunan) yang dapat
hidup sampai umur 2-3 tahun serta dapat ditanam pada ketinggian antara 0-1500 meter di atas permukaan laut.
        Secara umum, beberapa syarat tumbuh tanaman cabai rawit antara lain:

        1. Intensitas curah hujan yang sesuai untuk pertumbuhan tanaman cabai rawit adalah 100-1200                 mm/tahun. Tanaman cabai tidak cocok ditanam dengan curah hujan yang tinggi karena tanaman             cabai rawit akan mudah terserang penyakit yang disebabkan oleh cendawan atau bakteri                         misalnya penyakit bercak daun (antraknosa) dan penyakit layu.

       2. Tanaman cabai rawit membutuhkan cahaya matahari yang cukup sebagai sumber energi untuk               fotosintesis yang berpengaruh pada pertumbuhan vegetatif dan generatif. Kekurangan cahaya               matahari aka menghambat pertumbuhan vegetatif dan generatif tanaman, sedangkan cahaya                   matahari yang terlalu tinggi menyebabkan daun klorosis pada tanaman.

      3.  Pertumbuhan tanaman cabai akan optimum jika ditanam pada tanah yang gembur, subur, dan                 banyak mengandung humus (bahan organik).

            Peningkatan produksi dan mutu cabai rawit memerlukan tata kelola budidaya yang meliputi perbaikan manajemen serta aplikasi budidaya dari pra-panen sampai dengan pasca panen. Tanpa meninggalkan kearifan lokal dalam aplikasi budidaya pra-panen, perlu mempertimbangkan berbagai inovasi yang memungkinkan kegiatan manajemen lapangan yang lebih menguntungkan, seperti menggunakan mulsa plastik hitam perak.

            Untuk memperoleh hasil buah yang optimal, dalam budidaya tanaman cabai rawit selain dengan menggunakan varietas yang jelas, memiliki keunggulan mutu seperti tahan terhadap OPT, produktivitas tinggi, juga perlu diperhatikan penerapan teknologi budidaya yang baik.

            Kegiatan budidaya yang dinilai berkaitan erat dengan tujuan dan target yang ditetapkan, adalah pemeliharaan,pemupukan, pengairan, pengendalian OPT, panen dan penanganan pasca panen.

A. PERSIAPAN LAHAN 

    Budidaya tanaman cabai harus diperhatikan sejak persiapan lahan, kegiatan persiapan lahan adalah kegiatan memberi perlakuan pada lahan agar sesuai untuk pertumbuhan tanaman, meliputi kegiatan persiapan/ pengolahan lahan, pemupukan dasar, pembuatan bedengan dan atau pemasangan mulsa plastik. Tujuan mempersiapkan lahan ini agar pertumbuhan tanaman optimal. 

    Pengolahan tanah dilakukan dengan cara mencangkul untuk membersihkan lahan dari kotoran akar bekas tanaman lama dan segala macam gulma yang tumbuh. Hal tersebut dilakukan agar pertumbuhan akar tanaman cabai tidak terganggu dan untuk menghilangkan tumbuhan yang menjadi inang hama dan penyakit. Penyiapan lahan dengan pengolahan tanah diperlukan selain untuk memperbaiki kondisi lahan menjadi lebih seragam dan rata dengan adanya pencangkulan dan penggemburan, juga untuk mempercepat proses pencampuran bahan amelioran maupun pupuk dengan tanah (Alihamsyah et al., 2003).

    Pengolahan tanah ditujukan untuk memperbaiki drainase dan aerasi tanah, dan mengendalikan gulma, sehingga akar-akar tanaman dapat tumbuh dan berkembang dengan leluasa (Hilman dan Suwandi 1992). Adapun pengolahan lahan dapat dilakukan sebagai berikut:

  • Lakukan pembersihan lahan dari sisa tanaman dan gulma.
  • Lakukan penggemburan lahan dengan cara mencangkul sampai kedalaman 25-30 cm, kemudian lakukan perataan permukaan lahan.
  • Buat guludan mengikuti arah utara selatan dengan lebar 1,0-1,25 meter, tinggi guludan disesuaikan dengan tinggi muka air ketika pasang, dengan jarak
    antar bedengan 50 cm dan panjang disesuaikan kondisi lahan
  • Penanaman menggunakan polybag di dalam rumah kasa dilakukan dengan cara menyiapkan campuran tanah: pupuk kandang = 1:1. Media yang sudah tercampur dimasukan ke dalam polybag berukuran 40 x 40 cm;

B.     PEMUPUKAN DASAR

         Pemberian pupuk dasar dalam bentuk pupuk organik yang sudah matang sekitar 2 minggu sebelum tanam. Pupuk anorganik NPK, 7-10 hari sebelum tanam dengan cara ditebar, disiram dan ditutup mulsa organik. Jumlah dan jenis pupuk yaitu pupuk kandang sebanyak 20– 30 ton/ha dan sudah difermentasi dengan beberapaagen hayati, NPK 16-16-16 450kg/ha atau menggunakan campuran pupuk tunggal 200 kg/ha SP36, dan 100 kg/ha KCL.

C.     PENANAMAN 

        Penanaman merupakan kegiatan memindahkan bibit dari persemaian ke lahan atau areal penanaman hingga tanaman berdiri tegak dan tumbuh secara optimal di lapangan. Sebelum penanaman periksa bibit yang akan ditanam dan harus diseleksi terlebih dahulu. Batang tanaman harus tumbuh lurus, perakaran banyak danpertumbuhannya normal. Tanam bibit dibedengan pada lubang mulsa organik, sebatas leher akar dan tanah disekitarnya dipadatkan agar bibit berdiri kuat.

D.      PEMUPUKAN SUSULAN 

        Pemupukan susulan diberikan pada saat tanaman berumur 15 HST diberikan NPK (2 kg) dan pupuk boron (1 kg) dicampur dalam 100 liter air, dikocor 250 ml pertanaman dan setiap 10-15 hari sekali hingga 55 HST. Dilanjut dengan NPK (2 kg) dan KNO3 (1 kg) dicampur dalam 100 liter air, dikocor 250 ml per tanaman pada 65, 75 dan 85 HST. Larutan pupuk tersebut disiramkan ke media tanam yang berisi tanaman cabai.

E.     PEMASANGAN AJIR

        Pemasangan ajir sebaiknya dilakukan sesegara mungkin setelah tanam/pada saat tanaman masih kecil untuk menghindari terpotongnya akar tanaman karena tertusuk ajir. Bahan tiang ajir dapat menggunakan bambu atau potongan kayu yang berukuran kecil dengan panjang 100 cm (sesuaikan dengan kebutuhan). Jarak dari batang tanaman dengan tiang ajir antara 10 cm sedalam 15 – 20 cm dengan posisi miring keluar atau tegak lurus atau diatur sedemikian rupa sehingga dapat menopang tanaman secara kuat. lkat tanaman pada ajir dengan tali rafia setelah tanaman berumur 30-40 hari setelah tanam atau ditandai setelah adanya cabang pertama.

F.     PEREMPELAN / PEWIWILAN 

        Perempelan/pewiwilan merupakan kegiatan membuang tunas air dengan membiarkan tunas keempat dan seterusnya. Tujuan perempelan/pewiwilan yaitu untuk mengatur keseimbangan nutrisi dan asimilat untuk pertumbuhan dan perkembangan tanaman, membentuk tajuk tanaman yang ideal sehingga terjadi partisi sinar matahari yang efektif untuk energi fotosintesis serta mempermudah pemeliharaan. Pemotongan tunas (perempelan) pada tanaman cabai dilakukan pada waktu pagi hari, pewiwilan tunas di ketiak daun pada umur 20 - 45 HST.

G.     PENGENDALIAN OPT 

        Pengendalian OPT dapat dilakukan dengan pengamatan OPT secara berkala untuk mengetahui jenis OPT, luas dan intensitas serangan serta perkiraan OPT yang perlu diwaspadai dan dikendalikan, apabila mencapai ambang kendali lakukan tindakan pengendalian. Pengendalian hama dan penyakit pada tanaman cabai dilaksanakan berdasarkan konsepsi Pengendalian Hama Terpadu (PHT). Dalam konsepsi PHT, aplikasi pestisida merupakan alternatif terakhir jika cara pengendalian non- kimia kurang efektif.

H.     PANEN 

         Kegiatan panen dapat dilakukan pada saat mencapai kematangan fisiologis, dengan tujuan untuk mendapatkan buah dengan tingkat kematangan yang sesuai permintaan pasar dengan mutu buah yang baik. Hal yang perlu diperhatikan pada saat memasuki waktu panen yaitu menghentikan penyemprotan pestisida 2 minggu sebelum panen. Saat memanen perhatikan pemetikan agar percabangan atau tangkai tanaman tidak patah. Cara panen dilakukan dengan memetik dan menyertakan tangkai buahnya. Panen cabai rawit dapat dilakukan pada umur 100-115 hari setelah tanam, dengan tingkat kemasakan telah mencapai sekitar 80% saat mencapai bobot maksimal, bentuk padat dan berwarna merah dengan interval 3-7 hari. Buah cabai yang rusak atau sakit harus dipanen untuk dibuang agar tidak menjadi sumber penyakit. Buah cabai yang telah dipanen sebaiknya ditaruh ditempat terbuka atau diangin-anginkan supaya tidak cepat busuk. Proses penganginan ini cukup penting, apalagi jika cabai tidak akan segera dikonsumsi.

I.     PASCA PANEN 

        Kegiatan pengelolaan buah dilakukan sejak setelah dipanen hingga siap didistribusikan ke konsumen. Tujuannya menjamin kesegaran, keseragaman ukuran dan mutu buah sesuai dengan permintaan pasar. Untuk menghasilkan kualitas cabai yang baik harus
dilakukan proses penanganan pasca panen cabai yang baik dan benar melalui beberapa tahapan, yaitu:

  1. Lakukan sortasi sesuai dengan kriteria yang dikehendaki pasar.
  2. Keringanginkan hasil buah untuk mencegah pembusukan.
  3. Lakukan penyimpanan dengan menempatkan produk dalam ruangan yang sirkulasi udara yang baik.
  4. Lakukan pengemasan sesuai permintaan/ tujuan pasar.
  5. Gunakan kemasan yang memiliki daya lindung yang tinggi terhadap kerusakan, aman dan ekonomis. Proses ini sangat penting untuk menurunkan tingkat kehilangan hasil sehingga dapat memperpanjang umur simpan, meningkatkan daya saing dan kualitas dan kontinyuitas cabai.

Rabu, 10 Juli 2024

 

PROGRAM YESS KABUPATEN TULUNGAGUNG DI BDSP BPP NGANTRU

MELAKSANAKAN PELATIHAN BAGI PETANI MILENIAL

(MANAJEMEN BISNIS BAGI PEMULA (START UP)

 

((Dalam pelatihan ini peserta diajak membuat))

U MM B

( UREA MOLASSES MULTINUTRIEN BLOK )

 


Adonan untuk 1Kg= (dedak 40%/400gram, Molasses 40%/400gram,  Mineral 1%/10gram, urea8%/80gram, Semen putih3%/30gram,  Garam 8%/80gram, tepung tapioka secukupnya.

 

Oleh: Mudayat, SPt

 

 urea molasses multinutrien blok (U MM B ). Merupakan Penambahan suplemen UMMB telah lama digunakan untuk sapi potong, domba maupun kambing (Evitayami et al., 2004). Tujuan pemberian U M MB adalah penambahan suplemen pada ternak, membentuk asam amino yang dibutuhkan oleh ternak ruminansia juga untuk membantu meningkatkan kecernaan dengan cara menstabilkan kondisi keasaman (pH) di dalam rumen. Teknologi pembuatan UMMB dapat diaplikasikan pada wilayah- wilayah dengan sumber pakan utamanya sangat terbatas atau kualitasnya nutrisinya rendah. Teknologi pembuatan UMMB yang mudah serta biaya yang murah dapat dilakukan oleh peternak ruminansia skala kecil (Hennessy, 1984). Suplemen UMMB dapat dibuat dengan menggunakan formulasi yang bervariasi tergantung pada pasokan dan harga bahan- bahan yang dibutuhkan. Selain manfaat tersebut, UMMB juga memiliki palatabilitas tinggi sehingga disukai oleh ternak ruminansia (Yanuartono et al., 2015). Tulisan ini bertujuan memberikan gambaran manfaat UMMB untuk ternak ruminansia.


UMMB merupakan pakan tambahan (suplemen) untuk ternak ruminansia, berbentuk padat yang kaya dengan zat-zat makanan. Bahan pembuat UMMB antara lain adalah urea, molasses, mineral dan bahan lainnya yang memiliki kandungan protein dan mineral yang cukup tinggi. Suplemen UMMB dibuat dalam bentuk padat, kompak dan keras tetapi larut dalam air sehingga memudahkan ternak untuk menjilatinya (Focus, 2005).

Saat ini UMMB dalam bentuk komersial sudah dapat diperoleh di pasaran. Namun demikian, di wilayah padat ternak atau daerah dengan pendapatan peternak yang rendah akan lebih baik jika peternak diajarkan untuk membuat sendiri dengan bahan bahan lokal yang tersedia di wilayah tersebut. Selain dapat memanfatkan bahan pakan lokal yang tersedia, jika dilihat dari sisi harga, pembuatan UMMB akan jauh lebih murah jika dibandingkan dengan membeli produk jadi UMMB (Garg dan Sherasia, 2011).

Tingkat kekerasan blok sangat tergantung pada komposisinya. Makin tinggi kandungan molasses dan urea makin rendah kepadatannya. Bahan pemadat atau pengisi sangat penting untuk menghasilkan produk yang keras dan tergantung dari jenis bahan pemadatnya. Tingkat kekerasan blok juga dipengaruhi oleh jangka waktu penjemuran. Yanuartono et al. (2014) menunjukkan bahwa penjemuran selama 14-28 hari mampu membuat blok dengan bahan perekat semen menjadi keras. Laporan tersebut senada dengan laporan Mubi et al. (2013) yang menyatakan bahwa penjemuran blok dengan bahan perekat semen selama 30 hari dapatmeningkatkan  kekerasannya.  

Bahan Penyusun UMMB

Urea . Ruminansia mampu memanfaatkan sumber protein yang berbeda dengan hewan Keuntungan penggunaan urea pada pakan ruminansia karena memiliki protein kasar tinggi dan berbentuk senyawa sederhana sehingga dapat digunakan sebagai sumber protein oleh mikrob rumen (Enseminger dan Olentine, 1978). Pada awal penggunaan urea, level yang dianjurkan adalah 1 dari bahan kering ransum dan tidak lebih melebihi 3% dari campuran konsentrat atau tidak lebih dari sepertiga dari kebutuhan protein (Chalupa, 1968). Pemberian pakan tambahan yang kaya akan mineral dapat membantu tersedian mineral bagi bakteri dalam rumen (Panday, 2010). U rea sering digunakan untuk meningkatkan kecernaan pakan berserat melalui proses amoniasi karena lebih mudah, murah dan lebih aman dibandingkan proses alkalinasi lainnya serta dapat meningkatkan kadar N untuk memasok kebutuhan bagi mikrob rumen (Van Soest, 2006).

Meskipun di satu sisi penggunaan urea sangatlah menguntungkan, namun di sisi lain urea juga memiliki sisi yang merugikan. Keracunan dapat terjadi setiap saat jika ternak ruminansia mendapatkan akses mengonsumsi urea dalam jumlah besar, adaptasi pemberian urea yang terlalu singkat, campuran pakan basal dengan urea yang tidak seimbang, atau pemberian urea dengan konsentrasi yang tinggi pada pakan basal rendah energi, protein dan tinggi serat (Amir et al., 2012). Mengakibatkan keracunan urea

Molasses. Molasses didapatkan dari pengolahan gula melalui proses kristalisasi berulang. Molasses dapat digunakan sebagai pakan ternak secara langsung dengan cara dicampurkan pada pakan konsentrat, hijauan, limbah pertanian ataupun melalui proses fermentasi pada pembuatan konsentrat, aktivator pembuatan silase dan bahan dasar pembuatan UMMB. Molasses dapat diberikan dalam berbagai bentuk dan sangat bermanfaat dalam situasi pakan basal tidak mampu memenuhi kebutuhan ternak. Namun demikian, di masa yang akan datang perlu penelitian-penelitian untuk menggantikan molasses dengan sumber lain yang nilai nutrisinya setara dengan molasses. Hal tersebut karena saat ini harga molasses semakin tinggi karena sebagian besar telah diproses lebih lanjut menjadi alkohol yang jauh lebih mahal harga jualnya..

Sumber Mineral . Mineral merupakan bahan yang penting dalam pembuatan UMMB. Sumber mineral yang murah dan mudah didapat pada umumnya berupa tepung kerang, tepung tulang, lactomineral , dolomit, kapur bangunan dan garam dapur (NaCl). Mineral premiks perlu ditambahkan ke dalam UMMB apabila pakan basal yang diberikan memiliki kualitasnya sangat rendah (Yanuartono et al., 2015). Garam dapur selain digunakan sebagai sumber mineral juga dapat meningkatkan palatabilitas serta dapat membatasi konsumsi pakan yang berlebihan dan harganya murah. Semua ternak suka memakan garam apabila disediakan dalam bentuk jilatan ( lick ) atau dalam bentuk halus dilarutkan dalam air minum.

Bahan Pengeras. Semen atau kapur merupakan komponen dalam formulasi UMMB yang digunakan sebagai bahan perekat untuk mengikat semua bahan dan juga merupakan sumber kalsium/Ca (Antwi, 2014). Sekitar 10 sampai 15% semen atau kapur cukup untuk membuat UMMB menjadi keras dan tidak membahayakan ternak. Penelitian menun
jukkan bahwa tidak ada efek negatif dari semen
saat diberikan sampai 1% dari total asupan harian bahan kering, selama waktu pemberian (Mohammed
et al .; 2007; Antwi, 2014). Menurut Aye (2005), penambahan semen sebanyak 10- 15% sebagai bahan pengikat dan pengeras pada UMMB tidak menimbulkan masalah pada ternak. Selain penggunaan semen, tanah liat dapat juga digunakan sebagai bahan perekat pada pembuatan UMMB. Penelitian Omoniyi et al. (2013) menunjukkan bahwa penggunaan semen (10%) sebagai pengikat dikombinasikan dengan tanah liat (5%) terbukti efektif dan efisien sebagai bahan pengikat UMMB.

Bahan Pengisi . Komposisi UMMB sangatlah bervariasi dan di setiap wilayah atau negara ada kemungkinan berbeda, tergantung pada hasil pertanian di wilayah tersebut. Bahan pengisi dalam UMMB digunakan sebagai sumber energi dan protein. Bahan-bahan pengisi ditambahkan agar dapat meningkatkan kandungan nutrisi UMMB dan supaya menjadi bentuk padatan yang kompak. Bahan-bahan pengisi yang paling sering digunakan adalah dedak padi (Gadzama et al ., 2016; Yanuartono et al ., 2016) dan dedak gandum atau pollard (Yanuartono et al., 2014). Sebagai bahan pengisi dalam pembuatan UMMB dapat dipilih variasi di antara bahan-bahan tersebut yang murah dan dapat diperoleh. Variasi bahan pengisis UMMB juga dapat berdasarkan atas musim panen sehingga limbah hasil panen tersebut tersedia dalam jumlah yang berlimpah.

Pengaruh UMMB terhadap Ternak.

Hasil pemberian UMMB pada ternak cukup menjanjikan karena mampu meningkatkan produktivitas.   . Tambahan UMMB tersebut mampu menggantikan hingga 20% dari konsentrat dalam ransum

Keuntungan penggunaan urea pada pakan ruminansia karena memiliki protein kasar tinggi dan berbentuk senyawa sederhana sehingga dapat digunakan sebagai sumber protein oleh mikrob rumen (Enseminger dan Olentine, 1978). Pada awal penggunaan urea, level yang dianjurkan adalah 1 dari bahan kering ransum dan tidak lebih melebihi 3% dari campuran konsentrat atau tidak lebih dari sepertiga dari kebutuhan protein (Chalupa, 1968). Pemberian pakan tambahan yang kaya akan mineral dapat membantu tersedian mineral bagi bakteri dalam rumen (Panday, 2010). U rea sering digunakan untuk meningkatkan kecernaan pakan berserat melalui proses amoniasi karena lebih mudah, murah dan lebih aman dibandingkan proses alkalinasi lainnya serta dapat meningkatkan kadar N untuk memasok kebutuhan bagi mikrob rumen (Van Soest, 2006).

Meskipun di satu sisi penggunaan urea sangatlah menguntungkan, namun di sisi lain urea juga memiliki sisi yang merugikan. Keracunan dapat terjadi setiap saat jika ternak ruminansia mendapatkan akses mengonsumsi urea dalam jumlah besar, adaptasi pemberian urea yang terlalu singkat, campuran pakan basal dengan urea yang tidak seimbang, atau pemberian urea dengan konsentrasi yang tinggi pada pakan basal rendah energi, protein dan tinggi serat (Amir et al., 2012). Mengakibatkan keracunan urea

Molasses. Molasses didapatkan dari pengolahan gula melalui proses kristalisasi berulang. Molasses dapat digunakan sebagai pakan ternak secara langsung dengan cara dicampurkan pada pakan konsentrat, hijauan, limbah pertanian ataupun melalui proses fermentasi pada pembuatan konsentrat, aktivator pembuatan silase dan bahan dasar pembuatan UMMB. Molasses dapat diberikan dalam berbagai bentuk dan sangat bermanfaat dalam situasi pakan basal tidak mampu memenuhi kebutuhan ternak. Namun demikian, di masa yang akan datang perlu penelitian-penelitian untuk menggantikan molasses dengan sumber lain yang nilai nutrisinya setara dengan molasses. Hal tersebut karena saat ini harga molasses semakin tinggi karena sebagian besar telah diproses lebih lanjut menjadi alkohol yang jauh lebih mahal harga jualnya.

Molasses juga dapat menyebabkan keracunan. Gejala-gejala yang dapat terlihat yaitu terjadinya inkoordinasi dan kebutaan yang disebabkan oleh deteorisasi otak yang mirip dengan nekrosis serebrokortikal (Senthilkumar et al., 2016). Gejala awal keracunan molasses adalah ternak menolak mengonsumsi molasses, hipersalivasi, berputar-putar di dalam kandang, selanjutnya rubuh dan mengalami koma dan mati (Rowe et al., 1977). Pemberian hijauan berkualitas tinggi pada ternak dapat mencegah terjadinya keracunan tersebut.

Sumber Mineral . Mineral merupakan bahan yang penting dalam pembuatan UMMB. Sumber mineral yang murah dan mudah didapat pada umumnya berupa tepung kerang, tepung tulang, lactomineral , dolomit, kapur bangunan dan garam dapur (NaCl). Mineral premiks perlu ditambahkan ke dalam UMMB apabila pakan basal yang diberikan memiliki kualitasnya sangat rendah (Yanuartono et al., 2015). Garam dapur selain digunakan sebagai sumber mineral juga dapat meningkatkan palatabilitas serta dapat membatasi konsumsi pakan yang berlebihan dan harganya murah. Semua ternak suka memakan garam apabila disediakan dalam bentuk jilatan ( lick ) atau dalam bentuk halus dilarutkan dalam air minum.

Bahan Pengeras. Semen atau kapur merupakan komponen dalam formulasi UMMB yang digunakan sebagai bahan perekat untuk mengikat semua bahan dan juga merupakan sumber kalsium/Ca (Antwi, 2014). Sekitar 10 sampai 15% semen atau kapur cukup untuk membuat UMMB menjadi keras dan tidak membahayakan ternak. Penelitian menun- jukkan bahwa tidak ada efek negatif dari semen saat diberikan sampai 1% dari total asupan harian bahan kering, selama waktu pemberian (Mohammed et al .; 2007; Antwi, 2014). Menurut Aye (2005), penambahan semen sebanyak 10- 15% sebagai bahan pengikat dan pengeras pada UMMB tidak menimbulkan masalah pada ternak. Selain penggunaan semen, tanah liat dapat juga digunakan sebagai bahan perekat pada pembuatan UMMB. Penelitian Omoniyi et al. (2013) menunjukkan bahwa penggunaan semen (10%) sebagai pengikat dikombinasikan dengan tanah liat (5%) terbukti efektif dan efisien sebagai bahan pengikat UMMB.

Bahan Pengisi . Komposisi UMMB sangatlah bervariasi dan di setiap wilayah atau negara ada kemungkinan berbeda, tergantung pada hasil pertanian di wilayah tersebut. Bahan pengisi dalam UMMB digunakan sebagai sumber energi dan protein. Bahan-bahan pengisi ditambahkan agar dapat meningkatkan kandungan nutrisi UMMB dan supaya menjadi bentuk padatan yang kompak. Bahan-bahan pengisi yang paling sering digunakan adalah dedak padi (Gadzama et al ., 2016; Yanuartono et al ., 2016) dan dedak gandum atau pollard (Yanuartono et al., 2014). Sebagai bahan pengisi dalam pembuatan UMMB dapat dipilih variasi di antara bahan-bahan tersebut yang murah dan dapat diperoleh. Variasi bahan pengisis UMMB juga dapat berdasarkan atas musim panen sehingga limbah hasil panen tersebut tersedia dalam jumlah yang berlimpah.

                                            BUDIDAY TANAMAN CABAI RAWIT                                                                   ...